‎Tradisi Maulidan  ditengah Kota Metropolitan,  Wonokromo ss  Pertahankan Budaya tersebut

Tak Berkategori211 Dilihat
banner 468x60


‎Surabaya — nmpnews.com Wonokromo dikenal sebagai kawasan perdagangan di bagian selatan Surabaya yang kaya akan nilai-nilai kearifan lokal masyarakatnya. Seiring berjalannya waktu, terlihat jelas menjamurnya bangunan, terutama hunian, serta pertumbuhan populasi dan perubahan pola hidup masyarakat yang kian modern. Namun di tengah perubahan tersebut, masyarakat tetap menjaga budaya keagamaan yang sangat religius — salah satunya terlihat dari adanya Musholla Putri Wonokromo SS.

Dari sinilah lahir kegiatan yang diselenggarakan oleh kelompok Jam’iyah Majlis  Taklim Musholla Putri Wonokromo SS, yaitu peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW yang berlangsung pada Rabu, 2 September 2026. Jam’iyah yang dipimpin Hj. Ernawati ini menghadirkan suasana dan makna tersendiri bagi para jamaah putri di lingkungan sekitar.

Suasana kian menyentuh hati dan membangkitkan semangat keimanan ketika penampilan Hadroh Badrun Nada Asmaul Husna menggema memecah keheningan. Dalam rangka merawat budaya dan kearifan lokal, para jamaah putri senantiasa konsisten melaksanakan kegiatan ini setiap tahun.

<span;>‎Tak kalah istimewa, acara ini juga menghadirkan KH. M. Rofiuddin Al Hafidz untuk menyampaikan wejangan keagamaan. Dalam ceramahnya, Kiai mengupas secara mendalam Surat Al-Ahzab ayat 56, yang berisi perintah Allah SWT kepada orang-orang beriman untuk senantiasa bershalawat dan mengucapkan salam kepada Nabi Muhammad SAW. Secara ringkas, ayat tersebut menegaskan kemuliaan Kanjeng Nabi — tempat Allah SWT beserta para malaikat-Nya memuji dan memuliakan beliau — sekaligus menjadi perintah bagi umat Islam untuk membaca shalawat dan salam sebagai bentuk penghormatan.

‎Keunikan peringatan Maulid Nabi kali ini terletak pada pelaksanaannya yang murni digelar untuk kalangan jamaah putri. Suasana yang tertata dan kekeluargaan yang terjalin kian mempererat kebersamaan dan keakraban antarwarga perempuan.

‎Secara historis, Wonokromo memiliki jejak sejarah yang panjang dan sangat religius — hal ini dibuktikan pula dengan keberadaan masjid tertua yang masih berdiri tegak di kawasan tersebut. Budaya Maulidan yang digelar keluarga besar Jam’iyah Taklim Musholla Wonokromo telah menjadi tradisi yang mengakar kuat di daerah ini. Semangat dan antusiasme para jamaah terlihat begitu tulus dalam menghadiri setiap peringatan kelahiran Nabi.

‎Bagi masyarakat setempat, budaya Maulidan bukan sekadar rutinitas tahunan, melainkan sarana untuk meneladani akhlak mulia serta memohon syafaat Kanjeng Nabi Muhammad SAW. Tradisi ini membuktikan bahwa nilai-nilai luhur tetap relevan dan terus hidup, tak lekang oleh waktu di tengah arus perkembangan zaman dan pola hidup yang serba modern maupun digital.


red diyah
editor Mukhlis

banner 336x280

Komentar