
Tawangsari — nmpnews.com Dulu Tawangsari dikenal sebagai daerah pinggiran yang berada di perbatasan dua wilayah, antara Surabaya maupun Sidoarjo. Kini, wajah daerah ini telah berubah pesat mengikuti perkembangan zaman. Terlihat dari menjamurnya bangunan, terutama hunian, serta pertumbuhan populasi dan perubahan pola hidup masyarakat yang semakin modern. Namun, di tengah perubahan tersebut, nilai-nilai budaya dan kearifan lokal tetap dijaga dan dilestarikan dengan baik oleh warga setempat — salah satunya tradisi pengiriman doa bersama serta peringatan Maulid Nabi yang dikemas dalam acara kebersamaan, lengkap dengan pemanfaatan perabot rumah tangga sebagai bentuk kesederhanaan.
Salah satu contoh nyata dilakukan oleh keluarga H. Sutikno di mana momen peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW bertepatan dengan perayaan ulang tahun ke-63 istri beliau, Hj. Sumiyati. Perpaduan dua momen ini dianggap sebagai sebuah keberkahan tersendiri. Melalui kegiatan ini, keluarga Hj. Sumiyati berharap dapat memperoleh keberkahan dan syafaat dari Kanjeng Nabi Muhammad SAW.
Acara tersebut diisi dengan penampilan Hadroh Asy-Syaam, kelompok kesenian yang beranggotakan ibu-ibu warga setempat di lingkungan RT 11 RW 02. Kegiatan rutin tahunan ini menghimpun jamaah dari berbagai jamiyah, warga sekitar, hingga sanak saudara. Lantunan sholawat mengawali acara malam itu, menciptakan suasana yang khidmat sekaligus meriah. Suasana semakin hangat dengan adanya pembagian doorprize berupa gantungan suvenir yang digantung di atas tempat duduk jamaah, seolah-olah siap dipetik. Meski begitu, kekhusyukan jamaah tidak luntur saat Bu Nyai Hj. Islakhati, S.Ag memberikan wejangan yang disampaikan dengan santai namun serius, sarat akan makna dan keteladanan.
Keunikan peringatan Maulid Nabi kali ini terletak pada kemandirian pelaksanaannya. Berbeda dengan kegiatan serupa pada umumnya, acara ini terselenggara tanpa panitia formal maupun proposal permohonan bantuan kepada donatur. Justru inilah yang patut dicontoh — kemampuan untuk menyelenggarakan kegiatan secara mandiri dan tulus.
Ditinjau dari kemampuan ekonomi, Hj. Sumiyati bukanlah termasuk golongan berada, melainkan masyarakat biasa. Namun, keteladanan ini justru sering kali dianggap remeh, padahal tidak semua orang mampu melaksanakannya dengan ketulusan seperti itu. Secara rangkaian acara, pelaksanaannya sama seperti yang umum di masjid maupun mushola: diawali dengan sholawatan, pembacaan ayat suci Al-Qur’an, ceramah agama, dan ditutup dengan doa bersama.
Budaya Maulidan, baik yang diselenggarakan secara mandiri oleh keluarga maupun melalui lembaga kemasyarakatan, telah menjadi tradisi yang mengakar di Desa Tawangsari. Semangat warga untuk hadir dalam setiap peringatan Maulid Nabi terlihat begitu tulus — tanpa perlu dipikirkan lama, begitu tahu ada acara, warga langsung berdatangan.
Bagi masyarakat setempat, budaya Maulidan bukan sekadar rutinitas, melainkan sarana untuk meneladani akhlak dan memohon syafaat Kanjeng Nabi Muhammad SAW. Tradisi ini membuktikan bahwa nilai-nilai luhur tetap relevan dan terus hidup di tengah arus perkembangan zaman yang semakin modern.
editor Mukhlis






Komentar