Dari Makam, Gus Dur Selalu Punya Cara Mengingatkan Kita, Walau Sudah Tiada

Tak Berkategori172 Dilihat
banner 468x60

nmpnews.com Menjelang Muktamar NU ke-35 di Jombang, makam Gus Dur di Tebuireng makin ramai. Bukan ada acara besar. Bukan pawai. Orang-orang datang begitu saja. Duduk sejenak. Berdoa. Lalu diam. Seperti ada yang sedang dipikirkan.

Bukan karena dia mantan Presiden. Bukan karena dia mantan Ketua Umum NU. Orang-orang datang karena dia dulu pernah bicara soal hal-hal yang kadang kita takut ucapkan. Soal kebebasan. Soal toleransi. Soal memperlakukan semua orang sama, tanpa pandang siapa mereka dan dari mana. Hal yang dulu dianggap berisiko, dia katakan dengan tenang.

banner 336x280

Gus Dur lahir di Jombang, 7 September 1940. Cucu pendiri NU, putra KH Wahid Hasyim. Tumbuh di pesantren, tapi dunianya tak hanya di dalam tembok pondok. Dia baca buku, keliling pesantren, ngobrol dengan siapa saja — ulama, pedagang, santri, kelompok yang merasa terpinggirkan. Dia jadi presiden, tapi tetap terlihat seperti orang biasa.

Kepresidenannya memang tak lama. Dua tahun kurang. Tapi justru di situlah keistimewaannya. Bukan soal lama atau singkat menjabat. Tapi soal apa yang ditinggalkan. Dia bubarkan Departemen Penerangan supaya pers lebih bebas. Dia beri ruang warga Tionghoa agar bisa mengekspresikan budayanya dengan tenang. Hal yang waktu itu berani diambil sedikit orang, dia lakukan.

Wafat 30 Desember 2009, dimakamkan di Tebuireng, berdampingan dengan para leluhur NU. Sejak itu, makamnya tak pernah sepi. Ada santri naik sepeda ratusan kilometer. Ada pejabat yang datang tanpa protokol. Ada anak muda yang tak pernah melihatnya langsung, tapi kenal dari buku dan cerita. Semua datang, tak banyak bicara, hanya diam sejenak.

Muktamar NU ke-35 bikin suasana makin terasa. Para muktamirin sibuk urusan organisasi, pemilihan ketua, penyusunan program. Tapi banyak yang sempat mampir ke Tebuireng. Di sana, di depan makam yang sederhana itu, semuanya jadi teringat satu hal: jabatan akan berakhir. Kekuasaan akan lepas. Tapi sikap, keberanian, dan kebaikan yang kita sebarkan — itu yang tetap tinggal.

Gus Dur bukan lagi di dunia ini. Tapi setiap hari orang masih datang. Setiap hari pemikirannya dibaca, dibicarakan, kadang diperdebatkan. Dan selama itu masih terjadi, dia belum benar-benar pergi.

Mungkin itu pesan paling sederhana dari makamnya: apa yang kita tinggalkan, itulah yang sebenarnya hidup.

red SG

banner 336x280

Komentar