GUS KIKIN DAN JALAN ISLAH NU PASCA-MUKTAMAR

Tak Berkategori173 Dilihat
banner 468x60

Ketika Kontestasi Harus Berakhir, Persatuan Harus Dimulai

banner 336x280

Oleh: Muh. Baidowi Basyariyah.

jombang nmpnews.com Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama di Jombang akhirnya sampai pada titik klimaks.
Setelah melalui proses panjang, dinamika, perbedaan pandangan dan kontestasi gagasan mengenai masa depan organisasi, KH Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin akhirnya ditetapkan sebagai Ketua Umum PBNU masa khidmah 2026–2031.

Sembilan kiai sepuh yang tergabung dalam Ahlul Halli wal Aqdi (AHWA) akhirnya menjatuhkan pilihan kepada Gus Kikin.

Bagi sebagian orang, keputusan ini mungkin masih menyisakan pertanyaan.
Tetapi bagi NU, pertanyaan yang jauh lebih penting sekarang bukan lagi:
“Siapa yang seharusnya menang?”
Melainkan:
“Bagaimana kita menjadikan keputusan Muktamar ini sebagai awal kebangkitan NU?”
Inilah titik yang harus menjadi kesadaran bersama seluruh Nahdliyyin.

AHWA: BUKAN SEKADAR MEKANISME, TETAPI INSTRUMEN ISLAH

Sebelum keputusan Gus Kikin ditetapkan, salah satu perdebatan penting yang muncul adalah tentang posisi AHWA dalam menentukan Ketua Umum PBNU.

Perdebatan tersebut sesungguhnya sehat.
Sebab organisasi sebesar NU memang harus terus mengevaluasi mekanisme regenerasi kepemimpinannya.

Dalam kajian yang pernah kami sampaikan sebelumnya, bahkan muncul gagasan menarik: aspirasi muktamirin dapat dijaring terlebih dahulu melalui pengajuan nama calon dari struktur NU di bawah, kemudian dilakukan tabulasi untuk memperoleh nama-nama dengan dukungan tertinggi.

Nama-nama tersebut kemudian menjadi bahan pertimbangan AHWA.
Model semacam ini sesungguhnya mempertemukan dua sumber legitimasi:
legitimasi aspirasi muktamirin dan legitimasi moral para kiai sepuh.

Muktamirin memberikan suara dan aspirasi.
AHWA memberikan pertimbangan berdasarkan kemaslahatan yang lebih luas.

Karena itu, ketika sembilan anggota AHWA akhirnya memilih Gus Kikin, keputusan tersebut harus ditempatkan dalam kerangka yang lebih besar:
sebagai jalan ishlah untuk menyelesaikan kontestasi dan mengembalikan NU kepada agenda utamanya.

MARWAH MUKTAMAR HARUS DIJAGA

Ada satu hal yang sangat penting.
Apapun mekanisme yang digunakan, setelah keputusan Muktamar ditetapkan, marwah Muktamar harus dijaga bersama.

Jangan sampai setelah proses panjang selesai, justru muncul upaya untuk mempertentangkan satu kelompok dengan kelompok lainnya.
Jangan sampai kontestasi kandidat berubah menjadi konflik berkepanjangan.
Jangan sampai perbedaan pilihan kemudian berkembang menjadi saling curiga.
Dan jangan sampai media sosial menjadi arena baru untuk meneruskan pertarungan yang sesungguhnya sudah selesai di ruang Muktamar.

Karena NU tidak membutuhkan kemenangan yang melahirkan dendam.
NU membutuhkan kemenangan yang melahirkan rekonsiliasi.

GUS KIKIN BUKAN LAGI MILIK PENDUKUNGNYA

Ini harus ditegaskan.
Sebelum pemilihan, Gus Kikin adalah salah satu kandidat.
Setelah dipilih oleh AHWA dan ditetapkan sebagai Ketua Umum PBNU, status itu berubah secara fundamental.

Ia bukan lagi calon dari kelompok tertentu.
Ia bukan lagi representasi pendukungnya.
Ia adalah Ketua Umum seluruh Nahdliyyin.

Karena itu, pendukung Gus Kikin juga harus mengubah cara berpikir.
Tidak boleh ada euforia yang berlebihan.
Tidak boleh ada sikap merasa paling menang.
Tidak boleh ada keinginan untuk menyingkirkan kelompok yang berbeda pilihan.
Justru kemenangan harus menjadi pintu untuk merangkul.

Begitu pula mereka yang sebelumnya mendukung kandidat lain.
Tidak perlu merasa menjadi pihak yang kalah.

Dalam sebuah organisasi, kalah dalam kontestasi tidak berarti kalah dalam pengabdian.
Gagasan yang baik tetap harus dipertahankan.
Sumber daya manusia yang baik tetap harus diberdayakan.
Dan semua kekuatan harus dikonsolidasikan untuk kepentingan NU.

472 SUARA BUKAN SEKADAR ANGKA

Perolehan 472 suara yang mengantarkan Gus Kikin menjadi Ketua Umum PBNU adalah angka yang penting.
Tetapi angka tersebut jangan berhenti menjadi statistik kemenangan.
Ia harus diterjemahkan menjadi amanah.
Semakin besar mandat yang diterima, semakin besar pula tanggung jawab yang harus dipikul.

Gus Kikin kini menghadapi tantangan yang jauh lebih berat daripada memenangkan Muktamar.
Ia harus memenangkan kepercayaan.
Ia harus menyatukan kembali berbagai kelompok.
Ia harus memastikan bahwa struktur NU bekerja.
Ia harus menghadirkan manfaat nyata bagi warga.
Dan ia harus membuktikan bahwa keputusan AHWA memilihnya merupakan keputusan yang tepat bagi masa depan NU.

MENGAPA GUS KIKIN?

Ada alasan mengapa sosok Gus Kikin menarik untuk dibaca lebih jauh.
Ia memiliki latar belakang yang relatif unik.

Ia lahir dari keluarga pesantren.
Memiliki hubungan nasab dengan KH Hasyim Asy’ari.
Tetapi perjalanan hidupnya tidak hanya berlangsung di lingkungan pesantren.
Ia pernah menjadi pelaut.
Ia pernah menjalani kehidupan profesional di dunia pelayaran.
Kemudian memasuki dunia bisnis, termasuk sektor minyak dan gas.
Di sisi lain, perjalanan organisasinya di NU juga tidak pendek.
Ia pernah menjadi Wakil Ketua PWNU Jawa Timur selama kurang lebih 14 tahun, kemudian dipercaya menjadi Penjabat Ketua PWNU Jawa Timur dan akhirnya terpilih sebagai Ketua PWNU Jawa Timur secara definitif.

Ini menunjukkan sebuah kombinasi yang tidak terlalu sering ditemukan:
tradisi pesantren bertemu pengalaman profesional.
keulamaan bertemu manajemen.
tradisi bertemu dunia modern.
pengabdian organisasi bertemu pengalaman dunia usaha.

Tentu saja semua itu bukan jaminan keberhasilan.
Tetapi merupakan modal awal yang penting.

“TIDAK NUNUT URIP DI NU”

Dalam kajian kami sebelumnya juga muncul satu gagasan yang menarik dan perlu ditempatkan secara proporsional.
Seorang pemimpin NU idealnya tidak menjadikan NU sebagai tempat mencari penghidupan pribadi.

Ungkapan Jawa yang sederhana tetapi sangat dalam:
“Jangan nunut urip di NU, tetapi ikut menghidupi NU.”

Ini bukan berarti seorang pengurus NU tidak boleh mendapatkan hak profesionalnya.
Bukan pula berarti pengurus NU harus hidup tanpa penghasilan.
Tetapi secara moral, kepemimpinan NU harus dibangun atas semangat khidmah, bukan menjadikan organisasi sebagai kendaraan memperkaya diri.

Dalam konteks ini, pengalaman Gus Kikin sebagai pengusaha menjadi modal tersendiri.
Harapannya, beliau dapat membangun tradisi bahwa organisasi harus menjadi kekuatan pemberdayaan umat, bukan ladang kepentingan pribadi.

NU HARUS KEMBALI KE AKAR

Salah satu pekerjaan terbesar kepemimpinan Gus Kikin adalah mengembalikan orientasi NU kepada akar perjuangannya.

NU harus modern tanpa kehilangan tradisi.
NU harus terbuka tanpa kehilangan prinsip.
NU boleh berhubungan dengan kekuasaan, tetapi tidak boleh kehilangan independensinya.
NU boleh hadir dalam ruang politik kebangsaan, tetapi jangan sampai politik praktis menguasai rumah NU.

Karena ada perbedaan besar antara:
NU menggunakan politik untuk kemaslahatan umat dan
politik menggunakan NU untuk kepentingan kekuasaan.

Batas tersebut harus dijaga.

Qanun Asasi dan nilai-nilai dasar yang diwariskan para muassis harus menjadi kompas.

NU DAN POLITIK: JANGAN SAMPAI KAPAL KEHILANGAN ARAH

NU adalah kapal besar.
Politik hanyalah salah satu gelombang yang harus dilalui.
Jika kapal terlalu sibuk mengejar setiap gelombang, kapal bisa kehilangan arah.

Karena itu, PBNU di bawah Gus Kikin harus mampu menjaga jarak yang sehat dengan seluruh kekuatan politik.
Bukan berarti anti-politik.
Bukan pula berarti tidak boleh berhubungan dengan pemerintah.
Tetapi NU harus memiliki independensi moral.

Siapapun pemerintahnya, NU harus tetap dapat memberikan masukan.
Siapapun penguasanya, NU harus tetap mampu mengingatkan.
Siapapun partainya, warga NU harus tetap dihormati.

Itulah salah satu bentuk kemandirian organisasi.

EKONOMI UMAT HARUS MENJADI PRIORITAS

Di sinilah pengalaman Gus Kikin di dunia usaha harus diterjemahkan menjadi program konkret.

NU memiliki potensi ekonomi yang luar biasa.
Jaringan pesantren sangat luas.
Jumlah santri sangat besar.
Warga NU tersebar di seluruh Indonesia.

Namun potensi itu harus dikonversi menjadi kekuatan ekonomi nyata.
UMKM warga NU harus diperkuat.
Santri harus didorong menjadi entrepreneur.
Pesantren dapat dikembangkan menjadi pusat ekonomi produktif.
Koperasi dan berbagai instrumen ekonomi umat harus diperkuat dengan manajemen profesional.

Jangan sampai warga NU hanya menjadi konsumen dari produk orang lain.
Warga NU harus menjadi produsen.
Jangan hanya menjadi pasar.
NU harus menjadi kekuatan ekonomi.

REKONSILIASI: UJIAN PERTAMA GUS KIKIN

Menurut hemat saya, salah satu ukuran awal keberhasilan Gus Kikin bukanlah seberapa banyak program yang beliau umumkan.

Tetapi:
seberapa cepat beliau mampu menyatukan NU setelah Muktamar.
Ini sangat penting.
Karena sebuah organisasi besar tidak akan kuat jika energi para pengurusnya terus habis untuk menyelesaikan konflik internal.

Gus Kikin harus menjadi pemimpin yang membuka pintu.
Bertemu dengan semua pihak.
Mendengarkan semua kelompok.
Mengambil yang baik dari semua gagasan.
Dan memberikan ruang kepada kader-kader terbaik tanpa melihat dari kelompok mana mereka berasal.

Jika itu berhasil dilakukan, maka Gus Kikin tidak sekadar menjadi Ketua Umum hasil keputusan Muktamar.
Beliau akan menjadi Ketua Umum yang berhasil mempersatukan Muktamar.

DARI “MENANG” MENJADI “MENANGKAN NU”

Ada perbedaan besar antara memenangkan kontestasi dan memenangkan organisasi.
Memenangkan kontestasi selesai ketika keputusan diumumkan.
Tetapi memenangkan NU adalah pekerjaan lima tahun.

Memenangkan NU berarti:
pendidikan NU semakin baik,
pesantren semakin kuat,
ekonomi warga semakin tumbuh,
kaderisasi semakin sehat,
generasi muda semakin dekat dengan NU,
digitalisasi semakin maju,
dakwah semakin teduh,
dan hubungan NU dengan seluruh elemen bangsa semakin konstruktif.

Itulah kemenangan yang sesungguhnya.

KEPADA PARA MUKTAMIRIN

Kepada seluruh Muktamirin:
Muktamar telah selesai.
Jangan biarkan perbedaan pilihan membuat kita kehilangan persaudaraan.

Pilihan boleh berbeda.
Pandangan boleh berbeda.
Strategi boleh berbeda.
Tetapi ketika keputusan organisasi telah ditetapkan, kita memiliki kewajiban moral untuk menjaga NU.

Kritik tetap diperlukan.
Kontrol tetap diperlukan.
Koreksi tetap diperlukan.
Tetapi semuanya harus dilakukan dalam koridor ukhuwah dan kemaslahatan organisasi.

Mendukung Ketua Umum bukan berarti membenarkan semua tindakannya.
Mengkritik Ketua Umum bukan berarti menjadi musuh NU.

Yang kita butuhkan adalah budaya organisasi yang sehat:
taat ketika benar, mengingatkan ketika keliru, dan tetap menjaga persaudaraan.

KEPADA GUS KIKIN

Gus Kikin,
hari ini Penjengan tidak lagi membawa nama satu kelompok.
Penjenengan membawa amanah seluruh Nahdlatul Ulama.
Di belakang Penjenengan ada jutaan warga.
Ada pesantren.
Ada madrasah.
Ada masjid.
Ada kiai.
Ada ulama.
Ada santri.
Ada petani.
Ada pedagang.
Ada nelayan.
Ada profesional.
Ada pengusaha.
Ada generasi muda.
Dan ada begitu banyak warga NU yang mungkin tidak pernah datang ke Muktamar, tetapi menggantungkan harapan kepada NU.

Mereka tidak membutuhkan pidato yang terlalu tinggi.
Mereka membutuhkan NU yang hadir.
Hadir ketika pendidikan membutuhkan pertolongan.
Hadir ketika ekonomi umat membutuhkan pemberdayaan.
Hadir ketika pesantren membutuhkan penguatan.
Hadir ketika bangsa membutuhkan nasihat ulama.
Dan hadir ketika warga kecil membutuhkan pembelaan.

NAHKODA SUDAH DIPILIH

Maka metafora kapal besar NU terasa semakin relevan.

Kapal sudah berlayar.
Laut semakin luas.
Ombak zaman semakin tinggi.
Kapal tidak boleh berhenti hanya karena awaknya masih memperdebatkan siapa yang paling layak memegang kemudi.
Nahkodanya sudah dipilih.
Sekarang yang diperlukan adalah awak kapal yang bekerja.

Syuriyah menjaga arah dan nilai.
Tanfidziyah menjalankan program.

Kader menggerakkan masyarakat.
Pesantren mencetak generasi.
Warga NU menguatkan ekonomi.
Dan seluruh Nahdliyyin menjaga persaudaraan.

AKHIRNYA, INILAH SAATNYA ISLAH

Keputusan AHWA memilih Gus Kikin hendaknya kita jadikan sebagai titik akhir kontestasi dan titik awal ishlah.

Jangan lagi mencari siapa yang kalah.
Jangan lagi memperpanjang siapa yang menang.
Jangan lagi mengorek luka Muktamar.
Mari kita lihat ke depan.
Karena tantangan NU lima tahun ke depan jauh lebih besar daripada pertarungan internal lima hari di Muktamar.

NU harus kembali bekerja.
Kembali mengaji.
Kembali mendidik.
Kembali memberdayakan umat.
Kembali membangun ekonomi.
Kembali menguatkan pesantren.
Kembali mengader generasi muda.
Dan kembali menunjukkan kepada bangsa bahwa NU adalah kekuatan moral yang dapat menjadi penyangga kehidupan berbangsa dan bernegara.

Selamat kepada KH Abdul Hakim Mahfudz, Gus Kikin, Ketua Umum PBNU masa khidmah 2026–2031.

Semoga amanah.
Semoga keputusan sembilan kiai sepuh AHWA menjadi keputusan yang membawa maslahat.

Semoga para pendukung yang sebelumnya berbeda pilihan dapat kembali duduk bersama.
Semoga seluruh Muktamirin dapat menerima hasil Muktamar dengan lapang dada.
Dan semoga kepemimpinan baru ini mampu membawa NU kembali kepada khittah perjuangan para muassisnya.

Kapal besar Nahdlatul Ulama kini mempunyai nahkoda baru.
Jangan biarkan awak kapal saling bertengkar.
Jangan biarkan penumpang saling mencurigai.
Jangan biarkan kapal kehilangan arah.

Mari kita berlayar bersama.

Sebab yang harus kita selamatkan bukan kepentingan seorang ketua umum.
Yang harus kita selamatkan adalah masa depan Nahdlatul Ulama.
NU menang bukan ketika seseorang memenangkan kursi Ketua Umum.
NU menang ketika seluruh Nahdliyyin kembali merasa bahwa NU adalah rumah bersama.

Selamat menahkodai NU, Gus Kikin.

Khidmah telah dimulai.

banner 336x280

Komentar