Surabaya, nmpnews.com Puluhan tahun hidup Agus Kuprit tidak bisa dipisahkan dari panggung Ludruk. Dari panggung tobong yang berpindah dari satu kota ke kota lain, klub malam di Surabaya, studio televisi, hingga panggung Ludruk RRI Surabaya, seniman kelahiran Tulangan, Sidoarjo, itu tetap bertahan menghidupkan kidungan dan lawakan.
Kini, perjalanan panjang tersebut mendapat penghormatan. Agus Kuprit menerima Cak Durasim Award 2026, penghargaan yang diberikan sebagai bentuk apresiasi kepada seniman yang telah mendedikasikan hidupnya untuk menjaga keberlangsungan Ludruk Jawa Timur.
Penghargaan itu menjadi bagian dari Festival Ludruk Kepahlawanan Cak Durasim 2026 yang digelar di Gedung Cak Durasim, Taman Budaya Jawa Timur, Surabaya, 5 September 2026.
Festival ini diprakarsai Heri Lento Prasetyo melalui Yayasan Surabaya Juang Indonesia.
Agus Kuprit bukan nama asing di jagat Ludruk Jawa Timur. Nama aslinya Agus Ali Sahid. Ia lahir di Tulangan, Sidoarjo, 1 Desember 1958.bDarah seni mengalir dari ayahnya, Maripen, seorang seniman Ludruk tobong.
Perkenalannya dengan dunia panggung berlangsung sejak usia muda. Pada 1974, ketika menempuh pendidikan di STM Pancasila Semarang, ia mulai mengikuti rombongan Ludruk berkeliling.
Awalnya hanya membantu mendekorasi panggung.
Namun, panggung rupanya menjadi jalan hidupnya. Ia kemudian belajar bermain Ludruk, melawak, sekaligus melantunkan kidungan.
Pada 1976, siang hari ia bersekolah, sedangkan malamnya ikut bermain Ludruk dan mulai mampu ngidung.
Sekitar 1977, Agus bergabung dengan grup Ludruk tobong Jawa Timur pimpinan A Manab. Saat itu, rombongan tersebut rutin tampil di panggung Taman Hiburan Rakyat (THR) Semarang.
Nama “Kuprit” kemudian melekat setelah ia menggantikan seorang seniman bernama Pak Kuprit yang ditarik menjadi staf kantor.
“Sejak saya menggantikan Pak Kuprit yang ditarik menjadi staf di kantor, jadilah saya kemudian punya nama panggung Agus Kuprit hingga sekarang,” ungkapnya.
Menjadi seniman panggung keliling bukan perkara mudah. Penghasilan bergantung pada tanggapan atau permintaan pentas. Ada masa ketika panggung sepi dan uang sulit didapat.
Agus bahkan pernah hampir sebulan tidak bermain ketika bersama sebuah grup Ludruk di Salatiga. Untuk bertahan hidup, ia memasak beton, yakni biji buah nangka, karena saat itu sedang musim panen nangka.bKenangan itu masih membekas.
Namun, pengalaman pahit tersebut tidak membuatnya meninggalkan Ludruk. “Kalau niat kita sudah bulat, rasanya tidak ada yang susah. Terpenting kita harus sabar, ikhlas dan konsisten pada prinsip hidup,” tuturnya.
Perjalanan Agus kemudian membawanya ke berbagai panggung. Pada era 1980-an, ia bersama sejumlah seniman Ludruk Surabaya pernah tampil di klub malam kawasan Tunjungan dan Basuki Rachmat Surabaya, yaitu LCC dan Blue Sixteen.
Pada 1981 hingga 1991, ia mengisi acara “Kidung Jenaka” di TVRI Surabaya. Ia juga pernah tampil di hadapan sejumlah tokoh, salah satunya Menteri Penerangan Harmoko. Pertemuan itu kelak menjadi bagian penting dalam perjalanan hidupnya.
Saat makan bersama, Agus mengungkapkan keinginannya untuk menjadi pegawai RRI Surabaya. Harmoko kemudian memanggil Kepala Stasiun RRI Surabaya saat itu, Zaenal Abas.
“Entah ada hubungannya atau tidak. Yang jelas, Alhamdulillah keinginan saya menjadi pegawai RRI terkabul,” kenangnya. Sejak 1991, Agus Kuprit bergabung dengan Ludruk RRI Surabaya.
Di panggung, ia dikenal sebagai salah satu pelawak Ludruk papan atas Jawa Timur. Lawakannya berusaha tetap santun, tidak mengandalkan sentimen suku, agama, ras dan antargolongan (SARA), maupun pornografi. Kelucuan dibangun melalui bahasa, situasi, karakter, dan spontanitas.
Selain melawak, Agus dikenal piawai melantunkan kidungan jula-juli. Ia telah menciptakan sekitar 200 kidungan.
Dedikasi panjang itu membuatnya tidak hanya menjadi pelaku pertunjukan, tetapi juga bagian dari ingatan Ludruk Jawa Timur.
Namun, di balik penghargaan yang diterimanya, Agus menyimpan kegelisahan tentang masa depan kesenian tersebut.
“Saya sudah tua, siapa yang akan meneruskan? Anak muda suka bimbang, mereka ragu memilih menjadi seniman Ludruk. Padahal kalau ditekuni serius, saya yakin sandang pangan tercukupi,” katanya.
Kegelisahan itu pula yang membuat regenerasi menjadi isu penting dalam Festival Cak Durasim 2026.
Kurator Ludruk Festival Cak Durasim 2026, Hengky Kusuma, menyatakan regenerasi tidak semata-mata menghadirkan pemain baru. Lebih dari itu, regenerasi merupakan proses memindahkan pengetahuan, nilai, kreativitas, humor, kritik sosial, dan cara membaca kehidupan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Karena itu, penghormatan kepada Agus Kuprit melalui Cak Durasim Award memiliki makna lebih luas.
Penghargaan tersebut bukan sekadar trofi. Ia menjadi ucapan terima kasih kepada para seniman yang tetap menjaga napas Ludruk ketika kesenian tradisional menghadapi perubahan zaman.
*Pementasan Dua Kelompok Ludruk*
Festival Cak Durasim 2026 juga menghadirkan Komunitas Tombo Ati Jombang dengan lakon “WUH” dan Ludruk Karya Persada Mojokerto melalui “Joko Sambang – Pendekar Gunung Gangsir” karya dan arahan Kukun Tri Yoga.
Kehadiran dua kelompok tersebut menunjukkan bahwa Ludruk terus bergerak. Tradisi tidak harus berhenti pada bentuk lama. Ia dapat berkembang, menyesuaikan zaman, dan tetap membawa nilai yang menjadi akarnya.
Festival Cak Durasim sendiri pernah digelar pada periode 2000–2008 sebelum mengalami jeda. Festival kemudian kembali dihidupkan pada 2025 dan memasuki babak baru pada 2026.
Bagi Heri Lento Prasetyo dan Yayasan Surabaya Juang Indonesia, festival ini menjadi ruang untuk mempertemukan maestro, seniman, komunitas, dan generasi muda.
Sementara bagi Agus Kuprit, panggung Ludruk bukan sekadar tempat mencari penghidupan. Di sanalah sebagian besar hidupnya ditanamkan.
Dari panggung tobong hingga RRI Surabaya, dari masa sulit hingga menerima penghargaan, ia telah melewati perjalanan panjang untuk satu kesenian yang diyakininya layak terus hidup.
Kini, setelah puluhan tahun menghidupkan tawa dan kidungan, Agus Kuprit mendapatkan penghormatan.
Tetapi kegelisahannya tentang siapa yang akan meneruskan Ludruk tetap menjadi pertanyaan.
Barangkali, itulah makna terdalam Cak Durasim Award 2026: bukan hanya mengenang mereka yang telah menjaga Ludruk, tetapi memastikan setelah mereka turun dari panggung, masih ada generasi yang bersedia naik dan melanjutkan cerita.
Penulis:
Rokim Dakas








Komentar