Festival Bulan Sawunggaling Surabaya Capai Puncak 18 Oktober, Ada Jemparingan dan Kirab Budaya* ‎

Sosial Budaya, Wisata266 Dilihat
banner 468x60


Pers Rilis

Surabaya – nmpnews.com – Festival Bulan Sawunggaling 2026 memasuki puncak acara pada Minggu, 18 Oktober 2026, di kawasan Lidah Wetan, Kecamatan Lakarsantri, Surabaya.
‎
‎Perhelatan yang memadukan jemparingan atau panahan tradisional, kirab budaya, dan pertunjukan seni ini menjadi momentum untuk menghidupkan kembali warisan sejarah Raden Sawunggaling, tokoh legenda Kota Pahlawan.
‎
‎Rangkaian acara dimulai sejak pukul 06.30 WIB, dengan pusat kegiatan di kawasan Cagar Budaya Makam Raden Sawunggaling hingga Lapangan Poral atau SSB Mitra Surabaya, Lidah Wetan.
‎
‎Lembaga Pemberdayaan Masyarakat Kelurahan (LPMK) Lidah Wetan menggelar festival ini sebagai bentuk penghormatan terhadap tokoh lokal sekaligus upaya merawat tradisi yang tumbuh di tengah masyarakat.

banner 336x280


‎
‎Dua agenda utama pada puncak festival adalah Sayemboro Jemparingan Adipati Raden Sawunggaling Piala Wali Kota Surabaya 2026 dan kirab budaya bertajuk Angkat Budaya R. Sawunggaling.
‎
‎Jemparingan, tradisi memanah yang menjadi bagian dari kebudayaan Jawa, tidak sekadar mengandalkan ketepatan bidikan. Tradisi ini juga lekat dengan latihan konsentrasi, pengendalian diri, dan ketekunan.


‎
‎Sayemboro tersebut terbagi dalam beberapa kategori. Peserta dewasa putra dan putri bertanding pada jarak 30 meter. Sementara itu, kategori usia 18 tahun ke bawah menggunakan jarak 20 meter, dan usia 13 tahun ke bawah pada jarak 15 meter.
‎
‎Keterlibatan peserta lintas usia membuka ruang bagi generasi muda untuk mengenal tradisi melalui pengalaman langsung, bukan sekadar menyaksikannya dalam pertunjukan.


‎
‎*Angkat Jejak Sawunggaling*
‎
‎Selain jemparingan, kirab budaya menjadi bagian penting dari puncak Festival Bulan Sawunggaling. Peserta dijadwalkan bergerak dari kawasan makam menuju Lapangan Poral dengan iringan dan penampilan kelompok budaya.
‎
‎Berdasarkan susunan acara,  tamu undangan akan disambut dengan kalung bunga dan mengikuti tabur bunga. Prosesi kemudian dilanjutkan dengan pembacaan risalah Raden Sawunggaling oleh Cak Hilmi, diiringi 20 penari.
‎
‎Pemberangkatan festival  dikemas dengan unsur jemparingan. Setelah penampilan musik dan suluk jemparingan, tamu undangan menyerahkan busur panah sebagai bagian dari seremoni sebelum rombongan memulai kirab.

‎
‎Di sepanjang perjalanan, setiap kelompok peserta menampilkan mini teatrikal bertema Salam Suroboyo. Penampilan tersebut dinilai oleh juri di Balai RW 2 Lidah Wetan.
‎
‎Sesampainya di Lapangan Poral, acara dilanjutkan dengan Tari Ngrekso Sawunggaling oleh mahasiswa Sendratasik Universitas Negeri Surabaya (Unesa). Agenda berikutnya adalah orasi Sawunggaling Muda disampaikan Cak Febryan, Ketua Karang Taruna Surabaya.
‎
‎Panitia juga mengumuman pemenang Festival Salam Suroboyo dan penyerahan hadiah sebelum rangkaian acara ditutup.
‎
‎*Dari Makam hingga Patung Ayam Jago*
‎
‎Pemilihan Lidah Wetan sebagai pusat kegiatan bukan tanpa alasan. Kawasan ini memiliki keterkaitan sejarah dengan Raden Sawunggaling, termasuk keberadaan makam yang diperlakukan sebagai cagar budaya dan sejumlah penanda lokal yang mengingatkan masyarakat pada tokoh tersebut.
‎
‎Kepala Dinas Kebudayaan, Kepemudaan dan Olahraga serta Pariwisata (Disbudporapar) Kota Surabaya, Heri Purwadi, sebelumnya menjelaskan bahwa sebagian besar peninggalan yang dikaitkan dengan Sawunggaling berada di Lidah Wetan.
‎
‎Sawunggaling dikenal luas dalam tradisi tutur dan cerita rakyat Surabaya. Karena itu, festival tidak hanya menjadi agenda hiburan, tetapi juga sarana memperkenalkan kembali kisah lokal kepada masyarakat, terutama generasi muda.
‎
‎Salah satu penanda yang mudah dikenali adalah patung ayam jago di persimpangan jalan Lidah Wetan. Patung tersebut menjadi tetenger kawasan yang dikaitkan dengan petilasan Sawunggaling.
‎
‎Melalui festival ini, sejarah lokal dihadirkan dalam bentuk yang dekat dengan kehidupan warga, prosesi penghormatan, seni pertunjukan, olahraga tradisional, hingga kirab yang melibatkan kelompok masyarakat.
‎
‎*Pelestarian Budaya Perlu Berlanjut di Luar Festival*
‎
‎Festival Bulan Sawunggaling berlangsung pada 4–18 Oktober 2026. Sebelum puncak acara, rangkaian kegiatan telah diisi kirab budaya dan tari remo massal yang melibatkan sekitar 1.500 penari pada 4 Oktober, pertunjukan campursari pada 7 Oktober, serta agenda tasyakuran.
‎
‎Pada 11 Oktober, kegiatan seni dan budaya juga dijadwalkan berlangsung melalui kerja sama dengan Unesa. Rangkaian berikutnya mencakup sarasehan budaya, haul akbar, serta sejumlah agenda lain yang berpusat di Lidah Wetan.
‎
‎Beragam kegiatan itu menunjukkan bahwa pelestarian budaya dapat dilakukan melalui banyak pendekatan.
‎
‎Tradisi tidak harus berhenti sebagai cerita masa lalu, tetapi dapat menjadi ruang perjumpaan warga, tempat generasi muda belajar, dan sarana memperkuat identitas kampung.
‎
‎Namun, keberlanjutan warisan Sawunggaling tidak cukup hanya bergantung pada kemeriahan festival tahunan. Dokumentasi sejarah, pengenalan cerita rakyat yang bertanggung jawab, serta pemeliharaan situs dan penanda budaya tetap dibutuhkan agar jejak masa lalu tidak sekadar menjadi latar acara seremonial.
‎
<span;>‎Di Lidah Wetan, puncak Festival Bulan Sawunggaling pada 18 Oktober menjadi kesempatan bagi masyarakat untuk kembali mengenali warisan lokalnya sekaligus meneruskan tradisi tersebut kepada generasi penerus.
<span;>‎
<span;>‎Red SG/
<span;>‎ editor : Mukhlis

banner 336x280

Komentar